Menua Jua

Hasil gambar untuk geriatric

Ucap syukur, pengalamanku kian selalu bertambah setelah menjalani praktik dari berbagai macam setting. Hari ini bertepatan peringatan Hari Pahlawan tanggal Sepuluh November, saya merasakan kerja turun lapangan bersama tim saya yang terdiri dari macam-macam profesi, seperti kedokteran, kedokteran gigi, apoteker, perawat dan fakultas kesehatan masyarakat. Bekerja dalam satu tim kolaborasi, mendatangi rumah-rumah warga, memeriksa status kesehatan warga, mendengar keluhan mereka dan yang paling ampuh membuat saya tersentuh dan membuat sisi melankolis saya muncul adalah saat kami mengunjungi salah satu rumah warga dan dalam rumah tersebut hanya terdapat seorang Ibu atau sepasang orangtua yang sudah renta.

Selalu, saya terenyuh melihat mereka yang sudah renta menjalani hidup sendiri dengan kondisi yang sebenarnya sangat membutuhkan kehadiran orang lain. Saya berusaha sekali untuk tidak terbawa suasana yang cukup sendu sebenarnya. Kemudian, saya mengobrol dengan mereka layaknya keluarga dan mendengarkan segala keluh kesah mereka. Hal lain yang membuat saya tersentuh adalah mereka yang sebenarnya telah memiliki banyak anak, namun kini sudah dewasa dan memiliki kehidupan keluarga masing-masing, sehingga anak-anak mereka “tidak memiliki waktu” untuk merawat orangtuanya.

Saya tidak ingin berprasangka buruk terhadap anak-anak itu, saya tidak sepenuhnya tahu alasan mereka jarang bercengkrama dengan orangtua mereka, saya tidak tahu kisah ataupun latarbelakang dari keluarga mereka. Sungguh, saya tidak tega setiap saya melihat realita ini. Seketika itu, saya merefleksikan kejadian yang telah saya alami semua terhadap kondisi keluarga saya, mungkin jika ada petugas kesehatan seperti saya mengunjungi rumah untuk mendata kondisi kesehatan keluarga akan memiliki pikiran dan dugaan yang sama. Oleh sebab itu, saya berusaha sekali untuk berpikiran positif dan tidak menilai bahwa diri saya lebih baik dari anak-anak orangtua renta yang saya kunjungi.

Saya menyadari benar adanya bahwa semakin tua usia seseorang maka sifatnya akan kembali seperti anak-anak, bahkan bisa dibilang “lebih repot” dari merawat anak-anak dan cenderung tidak mudah. Seorang Ibu dapat merawat sepuluh anak-anaknya, namun sepuluh anak itu belum tentu mampu merawat seorang Ibu. Saya juga tidak pernah tega jika mengunjungi Sasana Tresna Werdha dan melihat para orangtua yang sudah tak berdaya merasakan kejenuhan yang seharusnya mereka menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan anak dan keluarganya. Pada usia yang sudah lanjut usia, mereka cenderung mengalami penurunan motivasi hidup, oleh karena itu kami sebagai petugas kesehatan juga senantiasa mengkaji kemungkinan tingkatan depresi yang dialami lansia.

Ketika di lapangan, tak jarang saya menemukan kalimat-kalimat putus asa yang keluar dari para lansia, seperti “saya sudah tidak semangat lagi”, “sudah biarkan penyakitnya saya bawa mati saja,” “ya bagaimana, saya sudah renta sakit semua badannya.” Ah, ingin rasanya saat itu juga saya pulang ke rumah dan memeluk Ibu saya. Jasa mereka yang tidak akan pernah bisa kita ganti sebagai anak. Mereka yang sudah mengorbankan semuanya, mereka yang selalu bilang sudah kenyang disaat belum makan karena sudah kelelahan memasak untuk keluarga. Mereka yang selalu bilang “ada” padahal merasa kurang untuk dirinya. Namun, ketika mereka sudah renta, kemana kita sebagai anak? kemana kita yang selalu diharapkan kehadirannya?

Saya hanya berharap, semoga kelak saya memiliki pasangan yang pengertian dan sabar untuk merawat dan mengabdi untuk sisa-sisa usia orangtua kami berdua. Ada orang yang dapat masuk surga karena mereka habiskan waktu untuk puasa sunnah, apalah saya yang masih lupa akan puasa sunnah. Ada orang dapat masuk surga karena rajin Qiyamul Layl, apalah saya yang masih suka tidur larut dan tidak bangun pada malam hari. Ada orang yang dapat masuk surga karena rajin bersedekah, apalah saya yang masih jarang banget isi kotak-kotak amal itu. Dimana lagi saya akan menemukan pintu surga saya, selain mengabdi kepada orangtua. Maka, siapapun kamu kelak, izinkan saya merawat mereka dan orangtuamu. Karena, kita sama-sama akan menua jua.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close